Wednesday, April 25, 2012

Tabungan Vs. Investasi

Teman: "Yusi udah punya investasi apa aja?"
Saya: "Kalo yang gede-gede belum ada, sih. Cuma ikut beberapa asuransi dan modal tabungan aja. Lagian kan masih single juga."
Teman: "Tapi, kan, kalo cuma ngandelin tabungan aja, ga cukup buat masa depan. Bisa-bisa buat biaya nikah aja udah habis duluan. Dan untuk status single, emangnya Yusi ga mau nikah, ga mau punya anak?"
Saya: "Nnnggg,,, emang belom kepikiran aja, sih..." *kehabisan kata-kata*
Teman: "Kalo aku sih... bla.. bla.. bla.."

***

Percakapan itu bukan satu-satunya percakapan di antara saya dan rekan yang membahas soal investasi. Lately, saya juga sering ngobrol ringan dengan beberapa rekan kerja soal investasi ini, tentang bagaimana sebaiknya kita memulai untuk berinvestasi sedini mungkin.

Sebenarnya saya awam untuk urusan ini, tetapi yang saya tangkap adalah, bagaimana mengatur dan memanfaatkan penghasilan sebaik mungkin agar kehidupan di masa mendatang bisa lebih terjamin.

Saya masih single dengan status tidak ada tanggungan. Dengan penghasilan per bulan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari, belum pernah timbul kekhawatiran bahwa saya akan menderita kekurangan. Pengeluaran terbesar saya saat ini adalah untuk jalan-jalan, sisanya benar-benar untuk kebutuhan primer + sekunder, dan hanya beberapa kebutuhan tersier. Tetapi tetap saja, nominal yang tertera di buku tabungan saya kurang menggairahkan apabila dibandingkan dengan akumulasi pendapatan selama ini.

Makin ke sini, seiring dengan makin terbukanya wawasan saya soal penataan keuangan untuk hidup yang lebih terjamin di masa depan, barulah saya merasa sangat kekurangan bekal untuk masa depan saya. Penghasilan yang masuk ke rekening per bulan seringkali hanya bisa saya tabung sepersekian bagian. Kalo ga ikut asuransi, rasanya simpanan tabungan saya akan jauh lebih minim.

Dulu, sewaktu kecil, saya pinter nabung. Dikasih duit jajan, hampir selalu saya tabung atau kalaupun saya jajanin, ga lebih dari setengahnya. Bahkan beberapa kali saya 'nyari penghasilan' dengan membuat semacam kuis-kuis berhadiah, narik 'uang pendaftaran' dan berhadiah 'barang-barang hadiah ulang tahun saya' yang mana di jaman itu kebanyakan seperti buku, pensil, dan pernak-pernik alat tulis yang lain yang kalo sekali ulang tahun dapetnya bejibun banget. Mau dijual kok asa perhitungan banget, jadinya prosesnya 'dimanipulasi' sedikit, hehe.. Animo teman-teman pun luar biasa sehingga saya ketagihan, hehe.. Selain itu juga saya pernah bikin permen asem-manis yang di jaman kecil saya dulu jarang ada yang ngejual tapi banyak temen yang doyan, trus dijual ke temen-temen.. Pernah juga saya bikin notes imut, pembatas buku, dan kerajinan-kerajinan kecil lainnya yang banyak diminati oleh teman-teman saya. Hasil dari sekian usaha saya itu selalu saya masukkan tabungan dan kalo ada keperluan, jarang minta ke orangtua tapi beli pake uang sendiri. Tapiii... itu dulu..

Sekarang, dengan penghasilan yang terhitung mencukupi, kok malah tabungan segitu-gitu aja, ga punya investasi, ya gitu-gitu aja. Selama ini orang tua yang selalu ngingetin, daripada cuma disimpen aja uangnya (dan kemungkinan besar kepake buat hal-hal yang ga penting), alangkah lebih baik kalo dipergunakan untuk investasi, misalnya beli apartemen atau beli kendaraan atau bla bla bla. Ini malah orangtua saya yang keukeuh untuk meminjami modal biar niatan itu terlaksana. Mulia sekali, ya, niatnya..

Ahh.. Makin dibahas makin muncul niatan untuk benar-benar mengelola keuangan dengan sebaik-baiknya. Ga ada kata terlambat untuk memulai suatu niatan yang baik. Semoga saja wacana ini ga hanya mengendap (lagi) dan bisa segera terealisasikan dengan penuh barokah. Amiinn ya robbal alamiinn..

Monday, April 23, 2012

Belitung, wowww!!!

Akhirnyaaa, ter-publish juga postingan soal trip ke Belitung ini setelah mengendap selama berbulan-bulan.

Jadi, sebenarnya saya udah berniat menjelajah Belitung sejak tahun 2010 lalu. Tetapi, adaaa aja kendalanya, dan kendala-kendala tersebut emang umum terjadi ketika sedang merencanakan trip, misalnya:

1. Nyari waktu yang pas,
Pengennya sebisa mungkin memaksimalkan libur long weekend untuk menghemat cuti.

2. Begitu waktu yang pas udah ketemu, eh pasukannya yang belum terkumpul.
Saya adalah tipe orang yang ga nyaman bepergian sendirian. Alasan paling utama tentu saja karena susah buat mengabadikan momen, hehe..

3. Pasukan udah berhasil dikumpulkan, eh, waktunya yang ga pas, karena kegiatan masing-masing yang berbeda jadi susah buat ngatur jadwal.

4. Semua udah fix, dananya yang ga ada, udah kadung kepake untuk pengeluaran lainnya (ini yang paling sering kejadian, hehe..)

Semua penjelasan di atas sebenernya cuma excuse aja, sih. Kalo kata temen saya yang emang well-prepared, asal semua udah direncanakan jauh-jauh hari, masalah-masalah minor kaya gitu harusnya ga akan sampai membatalkan keberangkatan.

Setelah berulang kali bongkar-pasang pasukan, akhirnya di waktu long weekend Januari 2012 kemarin ini, rencana trip Belitung fix juga dengan jumlah partisipan sebanyak 8 orang. Alhamdulillah, pasukan yang terkumpul pun bukan sembarang pasukan, melainkan emang temen-temen yang 'sama gilanya', 'sama niatnya', sama 'ketebrengnya', pokonya asik lah.

Berbekal informasi hasil browsing sana-sini, akhirnya pilihan jatuh pada EO Dal Adventure karena tergiur dengan harga paketnya yang cukup bersahabat. Akan tetapi, karena keberangkatan kami bertepatan dengan long weekend, jadilah harga tiket dapetnya lumayan mahal.

PENGELUARAN:

Secara umum, pengeluaran pribadi untuk trip Belitung adalah sebagai berikut:


Rp 1.225.000,- Tiket pesawat pp

Rp 795.000,- Paket Belitung Trip
 
----------------
Rp 2.020.000,- TOTAL


ITINERARY:
 
Hari 1. Sabtu 21 Januari 2012

14.50 : Penjemputan di Bandara Tanjung Pandan
Flight kami harusnya berangkat pukul 10.55. tapi karena delay hampir 3 jam, jadilah pesawat baru bisa diberangkatkan pada pukul 14.00 (Jakarta-Tanjung Pandan via pesawat 1 jam)
15.00 : Wisata ke Belitung Timur mengunjungi Bangunan Replika SD Muhammadiyah 'Laskar Pelangi' dan Bendungan Pice
17.00 - 18.30 : Makan di restoran lesehan tepi danau di Tanjung Pandan
19.00 : Check in di penginapan (Hotel eSBe)
19.00 - 20.00 : Makan malam di restoran lokal

Hari 2. Minggu 22 Januari 2012
07.00 - 08.00 : Sarapan di hotel
08.00 - 16.00 : Wisata bahari pulau lengkuas, pulau burung, pulau kelayang (Makan siang di pulau)
16.00 - 18.00 : Sunset di Tanjung Tinggi (lokasi syuting Laskar Pelangi)
18.00 - 19.00 : Kembali ke penginapan, beres-beres dan bersiap untuk makan malam di luar.
19.00 - 20.30 : Makan malam di restoran SS
20.30 - 21.30 : Belanja oleh-oleh (aneka kerupuk, kopi Belitung, abon khas Belitung, dll)

Hari 3. Senin 23 Januari 2012
08.00 - 09.00 : Sarapan di penginapan
09.00 - 10.00 : Exploring Danau Kaolin, bekas penambangan timah
10.00 - 11.00 : Mengunjungi rumah adat Belitung
11.00 : Drop bandara

FASILITAS:
 
- Transportasi selama tour berlangsung full AC
- Hotel sekamar Berdua (pasangan kamar disesuaikan dengan pendaftaran peserta)
- Makan pagi 2x, siang 2x dan malam 2x sesuai dengan itinerary
- Kapal Nelayan dan Life Jacket untuk wisata bahari + Snorkling Equipment
- Guide yang ramah dan berpengalaman.

Belum termasuk :
- Tip guide dan driver
- Pengeluaran pribadi
- Tambahan Makanan di penginapan/restoran di luar dari yang telah disediakan
- Airport tax


TIPS PERJALANAN:

1. Kondisi cuaca di Belitung belakangan ini agak sulit diprediksi. Saat ini masih dalam musim angin barat, yang cukup kencang bertiup. Di hari ke-2 jadwal kita wisata bahari. Perlu diketahui faktor keamanan adalah prioritas kami. Apabila cuaca tidak memungkinkan (terkadang ombak mencapai 2-3 meter) maka wisata bahari digantikan dengan wisata ke Belitung Selatan yang tidak menggunakan kapal wisata.

2. Gunakan sun block sebelum wisata ke pantai, karena hipnotis pantainya yang cantik membuat kita lupa diri akan terik yang menyengat.

3. Biasakan membuang sampah di tempatnya. Apabila di lokasi wisata tidak terdapat tempat sampah, maka simpanlah dalam plastik tersendiri dan tanyakan ke guide/driver tempat membuangnya.

GALERI FOTO:

Hari 1
 
Hari 2
 
 
Hari 3

Alhamdulillah ga hujan, jadi semua kegiatan berjalan lancar. Hujan cuma turun sekali, pas banget di malam sebelum Imlek. Menurut kepercayaan yang ada, di hari Imlek pasti akan turun hujan, sebagai tanda bahwa dalam setahun ke depan, rejeki akan lancar menghampiri. Hujan yang ada pun hanya terjadi selama beberapa menit saja, kurang dari setengah jam. Keesokan harinya, langit cukup cerah untuk mendapatkan obyek foto yang bagus :)
 
3 hari 2 malam yang kami habiskan di sana rasanya masih kurang untuk menjelajahi keindahan alam Belitung. Suatu hari nanti, saya pengen jalan-jalan ke sana lagi.. mm.. bulan madu, mungkin? :)

Monday, March 5, 2012

Solo (City of Ngesot)

Dari percakapan pasca trip to Belitung (postingan menyusul, yang punya blog lagi cibuk) bersama beberapa teman kuliah dan kantor dan pasangan masing-masing, tercetus ide untuk kembali meluangkan waktu untuk jalan-jalan bareng ke tempat lain, tentunya tetap dengan budget ala backpacker. Komposisi peserta hanya sedikit mengalami perubahan, berkurang 2 orang dan bertambah 1 orang.

Ga pake mikir lama, segera ditentukan bahwa tujuan berikutnya adalah menjelajah kota Solo yang terkenal dengan kulinernya yang menggiurkan. Ditambah lagi dengan adanya beberapa event yaitu Festival Ketoprak dan Solo Karnaval 2012 hasil browsing dan mampir ke web ini, jadinya ga butuh waktu lama dari menyusun itinerary hingga eksekusi. Salah satu partisipan dalam grup jalan-jalan ini yaitu Sade yang bernama lengkap Rr. Shakti Wrestikarra Nandini kebetulan adalah putri Solo, yang udah mahfum dengan seluk beluk kota Solo, semakin membuat kami mantap untuk menyegerakan fun trip ala backpacker exploring Solo.

ITINERARY:

Jumat, 17 Februari
19.30 : Berkumpul di Stasiun Senen
20.00 - 06.50 : Perjalanan Jakarta-Solo dengan kereta bisnis Senja Utama Solo

Sabtu 18 Februari
06.50 : Tiba di Stasiun Solo Balapan
07.00 - 08.30 : Sarapan nasi liwet dan pecel Stadion Manahan Solo
08.30 - 11.00 : Berangkat menuju rumah RM Arief A. Krisasongko (mandi dan bebersih, persiapan untuk menuju Karanganyar)
11.00 - 12.00 : Perjalanan Menuju Karanganyar
12.00 - 14.00 : Wisata makam di Astana Giribangun (Makam pak Harto)
14.00 - 15.30 : Makan siang di Bebek Goreng H. Slamet
15.30 - 18.00 : Solo Karnaval
18.00 - 19.00 : Kuliner Timlo
18.00 - 19.30 : Festival Ketoprak di Gedung Kesenian Balekambang
19.30 - 22.30 : Kembali ke rumah, persiapan untuk malam mingguan

Minggu 19 Februari
22.30 - 01.00 : Wedangan, UNO Time
01.00 - 02.30 : Kuliner Gudeg Ceker Bu Kusno
02.30 - 09.00 : Istirahat
09.00 - 10.00 : Kuliner Soto Triwindu
10.00 - 13.00 : Exploring Istana Mangkunegaran
13.00 - 14.15 : Hunting batik di PGS
14.15 - 14.45 : Beli oleh-oleh di Orion
14.45 - 15.30 : Kuliner Selad Solo
15.30 - 17.00 : Kembali ke rumah untuk persiapan pulang
17.20 : Berkumpul di stasiun Solo Balapan
18.00 - 04.30 : Perjalanan Solo-Jakarta dengan kereta bisnis Senja Utama Solo

Senin, 20 Februari 2012
04.30 : Tiba di Stasiun Senen Jakarta
06.30 : Berangkat ke kantor masing-masing

PENGELUARAN:  

KOLEKTIF (7 orang)
600.000,-
Carter mobil (Suzuki APV) 2 hari 150.000,- Bensin1.173.500,- Wisata kuliner 165.000,- Tiket festival ketoprak, tiket masuk istana Mangkunegaran dan Astana Giribangun
--------------
2.088.500,- TOTAL

PRIBADI

298.357,- Pengeluaran per orang
333.750,- Tiket kereta bisnis Senja Utama Solo PP
--------------    
632.200,- TOTAL

GALERI FOTO:

Thursday, February 9, 2012

Amazing Fanka

Weekend lalu saya dan beberapa rekan kerja beserta beberapa pasangan mereka mengadakan kegiatan bersama yaitu rafting, yang biasa disebut arung jeram, di Sungai Citatih daerah Sukabumi. Itu adalah kali perdana saya mengikuti kegiatan rafting.

Wacana rafting ini sebenarnya sudah lama kami rencanakan, tetapi selalu saja mengendap dan kemudian terlupakan. Hingga akhirnya seorang teman mengabarkan bahwa ia baru saja mengikuti kegiatan rafting yang diadakan oleh tempat dimana istrinya bekerja, menggunakan jasa EO yang cukup recommended. Berbekal informasi itulah akhirnya kami mulai serius lagi mematangkan rencana tersebut.

EO telah ditunjuk, lokasi ditetapkan, dana terkumpul, dan diputuskan bahwa kegiatan akan dilaksanakan pada hari Sabtu kemarin, 4 Februari. Paket yang kami pilih yaitu paket rafting berjarak 13 km dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Setelah memastikan bahwa semua peralatan untuk keamanan telah terpasang dengan baik, ketua pemandu rafting memberikan safety briefing dalam kegiatan rafting.

Saya menempati boat bersama 4 orang rekan ditemani oleh seorang pemandu yaitu Mas Sanusi. Sebelum kegiatan dimulai, pemandu rafting di tiap-tiap perahu memberikan instruksi dan mengajak kami mempraktikannya. Setelah merasa paham dengan setiap instruksi yang diberikan, perahu mulai dilepas bergerak mengikuti arus sungai, perlahan tapi pasti. Sesekali kami diberikan aba-aba mendayung untuk mengatur arah perahu agar lebih terkendali. Satu persatu jeram kami lalui dengan pacuan adrenalin yang bagi saya cukup ekstrim.

Walau bisa berenang dan memakai peralatan keselamatan yang lengkap, saya tetap kurang bisa santai selama pengarungan. Salah satu cara ampuh untuk mengatasinya adalah dengan berteriak sekuat tenaga setiap melewati jeram. Dan cara tersebut ternyata ampuh karena rekan-rekan saya yang lain mengira saya begitu menikmati.

Ketika akan melewati satu jeram yang cukup ekstrim, kami diberikan peringatan agar nantinya mempraktikkan aba-aba 'BOOM', yaitu duduk berkumpul di dasar perahu untuk menjaga keseimbangan dari pengaruh arus yang sangat liar. Ketika melewati jeram tersebut, perahu kami mengalami lonjakan yang cukup keras, sehingga cukup banyak air yang masuk ke dalam perahu kami. Seru memang, tapi tetap saja bagi saya yang agak fobia dengan perairan membuat beberapa detik itu menjadi sangat menegangkan.

Selama pengarungan, tim kami tidak mengalami kejadian yang heboh. Ada beberapa tim lain yang mengalami perahunya terbalik. Tetapi regu penyelamat selalu siap siaga sehingga tidak ada kejadian fatal.

Tidak terasa, pengarungan telah berjalan selama 3 jam dan akhirnya kami semua kembali berkumpul di meeting point. Ketika mandi, saya melihat beberapa bagian tubuh saya mengalami memar. Memang selama pengarungan, karena kurang santai mengakibatkan badan saya kaku sehingga tabrakan dengan pinggir perahu karet ketika perahu terguncang saja terasa sakit. Tetapi, secara keseluruhan, acara rafting kami itu sangat berkesan dan benar-benar memuaskan hasrat untuk berpetualang.

Hari Senin, 2 hari setelah kegiatan tersebut berlangsung, saya melihat satu tweet di timeline saya yang menyatakan bahwa seorang mahasiswa yang kebetulan satu almamater dengan saya dikabarkan hilang pada saat mengikuti kegiatan arung jeram di daerah Garut. Berawal dari rasa penasaran, saya mencari mention yang ditujukan untuknya. Banyak sekali mention yang menyebutkan namanya, dan saya telusuri setiap informasi yang tercantum.

Mungkin karena beberapa hari sebelumnya saya juga melakukan kegiatan yang sama membuat saya merasa lebih aware dengan peristiwa ini. Tanpa crosscheck berita dengan rekan yang lain, saya telusuri sendiri segala berita mengenai dirinya.

Malam harinya, saya menghabiskan waktu bertukar pikiran dengan papi yang sedang berkunjung ke Jakarta sehingga sempat lupa akan peristiwa yang menimpa Fanka. Akan tetapi, ketika akhirnya papi pun kemudian tertidur, saya kembali sendiri dan lamunan saya lagi-lagi mengarah pada Fanka.

Beberapa jam lamanya saya tetap terjaga, mengumpulkan satu-persatu berita, berharap pada datangnya berita baik. Saya menghibur diri dengan membayangkan bahwa mungkin saja ia hanyut dan kemudian tersangkut akar pohon di pinggir sungai dalam keadaan pingsan dan kemudian ditolong oleh penduduk lokal yang jauh dari sumber informasi, diberikan perawatan sehingga ia kembali pulih. Akhirnya, sekitar pukul 2 dini hari saya terkapar dengan sendirinya karena memang cukup lelah.

Ketika bangun keesokan paginya, HP masih ada dalam genggaman dan hal pertama yang saya cari tahu adalah berita terbaru mengenai dirinya. Belum ada berita yang menenangkan tetapi saya tahu bahwa sangat banyak orang yang peduli dan turut mendoakan agar dirinya kembali ke rumah dengan selamat.

Sore harinya, sepulang dari kantor, saya mengantar papi ke bandara. Saat di taksi dalam perjalanan menuju bandara, saya lebih banyak melamun. Sesekali saya tersadar dari lamunan dan menjawab pertanyaan atau menimpali obrolan papi. Dari jendela taksi, saya melihat matahari yang [saat itu] cahayanya menurut saya indah. Saya sempat membatin, indahnya ga kalah dengan sunset yang pernah saya saksikan di beberapa pantai. Pasti indah dan membahagiakan kalau dek Fanka juga bisa melihatnya.

Sesampainya di bandara, papi check-in kemudian ngajak makan bareng. Beres makan, papi nyuruh saya langsung pulang aja, biar ga kemaleman nyampe rumah katanya. Suasana hati yang sudah mellow bertambah mellow pula dengan momen perpisahan itu. Susah payah saya menahan tangis dengan beragam alasan seperti gengsi, malu, jaim, dan terlebih karena ga pengen papi juga ikutan sedih.

Saya berhasil menahan tangis dan kemudian menuju loket penjualan tiket DAMRI untuk pulang. Duduk sendiri di dalam bis yang masih sepi, lagi-lagi lamunan saya mengarah pada Fanka. Ada perasaan ingin tahu tetapi juga takut apabila harapan saya tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi akhirnya saya putuskan untuk membuka twitter dan menelusuri berita terbaru tentangnya. Ketika mention tentangnya telah terbuka, tweet yang terbaca adalah RIP @angelinayofanka.

Entah rasa haru itu datang darimana atau mungkin karena akumulasi dari segala hal tertahan yang belum terlepaskan, airmata yang sebelumnya selalu bisa saya tahan menjadi tak terbendung. Kali itu saya biarkan saja airmata tumpah ruah, berharap agar segala kegundahan juga bisa hilang seiring dengan keringnya airmata itu nantinya.

Angelina Yofanka. Saya hanya tahu namanya dan itu pun baru hitungan hari. Tetapi kabar kepergiannya menimbulkan duka yang mendalam, dan saya yakin bukan karena latah atau kepo semata. Dari sekian banyak informasi yang saya tahu, berujung pada kesimpulan bahwa dia pastilah orang yang sangat baik dan mengagumkan karena terbukti, sangat banyak sekali orang yang menyayangi dan mencintainya. Pun banyak hal-hal menakjubkan yang tercipta oleh seorang Fanka. Setiap membaca mention tentangnya, seringkali saya merinding. Betapa mengagumkan pribadi seseorang sepertinya. Seorang Angelina Yofanka bisa menyatukan massa sedemikian besar dan membuat perubahan yang menakjubkan. Pastilah karena ia orang yang spesial. Karena itu pula Tuhan memanggilnya lebih cepat. Karena ia spesial.

Sang pencinta alam kembali ke pangkuan-Nya dalam pelukan alam yang dicintainya.

RIP Angelina Yofanka.

Monday, February 6, 2012

[Never-Ending] Self-Introspection

Teman: Pernah ga sih kakak tuh tau kalo kakak jahat sama temen kakak, tapi kakak masa bodoh, tetep aja jahat ma dy?
Saya : Ya pernah, lah, retoris itu sih
Teman : Maksudku, kaya di sinetron-sinetron gitu, kakak jadi tokoh antagonis, mendzhalimi orang, hehe..
Saya
: *mikir bentar* Pasti pernah, tapi bentar deh aku inget-inget dulu, ya.. Nah, kamu?

Teman
: Mmm.. kalo aku sih seringnya jadi yang dizhalimi, kak..

Saya
: Ahaha.. Kok curhat? Canda..

bla bla bla..


***

Beranjak dari percakapan itu, saya teringat satu cerita yang lagi-lagi terjadi sewaktu saya di SMA dulu (never dies lah cerita masa SMA mah).

Jadi, karena saya tinggal di asrama, untuk periode kelas 1 dan 2, setiap 6 bulan sekali, kami menempati kamar yang berbeda, tentunya dengan komposisi teman sekamar yang berbeda pula. Begitu naik kelas 3, dengan alasan agar tidak mengganggu aktivitas belajar, tidak ada pergantian kamar, jadilah kami harus menempati kamar yang sama hingga akhir periode kelas 3 dengan teman sekamar yang tetap sama juga.

Waktu itu saya sekamar dengan YI, ADC, dan LNP. Ketiga teman sekamar saya ini overall asyik-asyik dan baik-baik semua. Walau sesekali terjadi selisih pendapat, tapi hal-hal itu bisa dianggap hanya sebagai bumbu pelengkap pertemanan, intinya mah masih asyik-asyik saja.

Blame on broken-hearted, sewaktu kelas 3, saya menjadi pribadi yang lebih tertutup, lebih masa bodoh dan apatis (kurang peka terhadap sekitar), menyebalkan karena terkungkung dalam drama menyedihkan yang saya ciptakan sendiri, dan berujung pada high-temper. YI dan ADC udah kebal dengan kelakuan saya yang suka seenaknya, karena mereka bisa dan berani protes apabila saya udah kelewatan ngeselinnya. Lain halnya dengan LNP yang lebih pendiam dan kalem, dia lebih sering sabar dan ngalah menghadapi saya. Karena merasa di atas angin, jadilah saya makin semena-mena. *eh tapi, jangan membayangkan hal yang berlebihan juga ya, karena saya ga se-antagonis itu juga sih, hehe..*

Setiap hari kami diwajibkan untuk menjaga kebersihan dan kerapihan kamar. Karena itu, tiap kamar mempunyai jadwal piket masing-masing, siapa yang menyapu dan mengepel lantai, siapa yang mencuci peralatan makan yang kotor, siapa yang bertanggung jawab terhadap kebersihan balkon kamar, dan siapa yang kebagian giliran untuk membersihkan kamar mandi. Pembagiannya kurang lebih seperti itu.

Waktu itu giliran saya menyapu lantai. Saat saya beres nyapu dan sumringah melihat lantai yang udah kinclong, tiba-tiba LNP pindah ke depan cermin untuk menyisir rambut dan beberapa helai rambutnya jatuh ke lantai. Tanpa babibu, saya bentak dia dengan kasar dan tak terputus. YI dan ADC yang juga melihat kejadian itu hanya diam saja, bukan karena segan kepada saya, tapi karna males ribut, tahu bahwa hanya debat kusir jadinya kalo diterusin berdebat.

Malam harinya, kami semua belajar bareng karena waktu itu memang lagi musim ujian. Seakan ga inget kalo saya udah jahat ama dia (dan emang saya juga belum minta maaf), seenaknya aja saya nyontek jawaban PR dari dia yang udah beres dia kerjain sampai begadang. Duh, kalo diinget-inget lagi, maluuu banget. Seandainya saya yang jadi LNP, mana mau saya diperlakukan semena-mena seperti itu. Di lain waktu, LNP pernah sakit dan saya lupa membawakan makanan untuk dia. Seingat saya, waktu itu saya lagi sebal sama dia, dan tanpa merasa bersalah karena malah teman dari kamar lain yang akhirnya membawakan makan, saya cuek aja masuk kamar dan sibuk sendiri. Ah, cukup banyak hal jahat lainnya yang saya perbuat pada LNP, tapi dia ga berubah, tetep aja ga ngelawan. Kalopun dia sesekali protes, hampir ga pernah saya pedulikan. Masa bodoh pisan!

Sampai pada saat menjelang kelulusan, saat seluruh kelas 3 sebentar lagi akan meninggalkan asrama, akhirnya ada momen dimana kami berkesempatan untuk berbicara cukup lama, yang tadinya hanya obrolan sampah haha-hihi, kemudian menjadi serius saling bertukar isi hati. Saya lupa bagaimana persisnya ceritanya, tapi at the end, dia bilang, bukannya dia takut atau segan melawan setiap kali saya berlaku kasar. Dia hanya ga ingin memperpanjang masalah. Sempat beberapa kali dia cukup terluka dan bahkan sempat menangis (yang ga pernah saya sadari), tapi dia tetep kalem dan lempeng aja di permukaan. Yang kemudian membuat saya menangis sesenggukan, dia bilang kalo dia beranggapan bahwa sebenarnya saya ga sejahat itu, cuma karena lagi banyak masalah aja makanya jadi temperamen. Dia ngingetin kebaikan-kebaikan saya, as simple as that, ngasi saran supaya saya ga terlalu menenggelamkan diri dalam drama patah hati akut, dll dsb.

Saat itu saya sakit hati, bukan karena orang lain, tetapi karena saya sendiri. Ketika tiba waktunya kesadaran itu datang, sesal bertubi-tubi itulah yang menusuk-nusuk hati saya, nyampe nangis pun ga bisa bersuara. Ah, luar biasa nyesel lah pokona mah. If only I could turn back time, waktu itu saya sungguh berharap diberi kesempatan untuk mengulang waktu, memperbaiki diri sedari awal agar pada akhirnya ketika menemui perpisahan, kesan tentang yusi yang tertanam di diri teman-teman saya sebisa mungkin lebih banyak kesan-kesan yang menyenangkan.

Beruntung, selama 3 tahun itu, saya hidup di tengah-tengah teman-teman yang hampir semuanya ga berbakat jadi orang jahat. Kalau dibandingkan dengan cerita-cerita remaja sekolah saat ini, misalnya senior menggencet junior atau kejahatan-kejahatan lainnya, saya ga pernah mengalami dan ga pernah menemukan di masa saya SMA. Yah, pastinya selalu ada konflik, intrik, dan masalah, tapi kalo saya bahasakan kira-kira seperti ini: jahatnya masih cupu dan ga kreatif :)