Friday, July 17, 2020

My Instagram Journey

Aku tergelitik untuk membuat postingan ini setelah ada salah satu user yang DM menanyakan kiat menjadi selebgram. Tentang sebutan selebgram, setidaknya itulah pandangannya mengenai akun instagramku.

Pertama, aku luruskan dulu, aku ga pernah mengklaim diriku dengan sebutan selebgram. Sewaktu awal join instagram, motivasiku adalah supaya punya mini album untuk mengabadikan momen-momen dalam keseharianku yang saat itu baru punya bayi, yaitu Azka, anakku yang pertama.

Back to the end of 2013, aku "nyasar" ke instagram saat sedang mencari pakaian bayi secara online. Later on, pelan-pelan aku mulai aktif posting. Puncaknya, saat aku melihat salah satu brand fashion muslimah, aku tertarik untuk nyobain produknya yang walaupun sebenarnya terbilang mahal tapi entah kenapa daya tariknya luar biasa. Itupun pada akhirnya aku perdana nyobain setelah lihat langsung produknya di Muse - FX, tapi belinya di Z*alora karena di sana yang lagi sale.

Lambat laun, aku mulai ketagihan belanja brand tersebut dan mulai memberanikan diri untuk upload saat memakai produknya, yang kita sebut dengan OOTD alias #outfitoftheday. Padahal, yah, aslinya, dulu aku tuh kaku banget kaya kanebo kering kalau disuruh pose di depan kamera. It was one of my biggest fear, to be on frame, aselik bisa keringet dingin, intinya sangat amat ga fotogenik, lah (padahal sebenernya karena saat itu belum tau banyak aplikasi edit foto, jadi ya fotonya standar semua, hihi). Dari hashtag khusus untuk brand tersebut, aku mulai dapat kenalan baru dengan saling memberi like ataupun komentar.

Followersku berkembang secara organik seiring dengan semakin seringnya aku upload foto OOTD. Walaupun pernah dituduh beli likes ataupun followers, aku ga mempermasalahkan. Apapun yang kita sajikan di media sosial pastinya akan ada pro dan kontranya, tinggal bagaimana kita bisa bijak menyikapinya.

Sampai pada suatu waktu, saat itu followersku berjumlah 1000 sekian, ada salah satu online shop kerajinan tangan yang menawariku endorsement. Saat itu aku sama sekali buta mengenai hal itu. Lalu adminnya menjelaskan bahwa mereka akan mengirim salah satu produk mereka. Aku diperbolehkan memilih, yang saat itu aku ambil kotak tisu berbahan kayu yang sampai saat ini masih menghiasi rak bukuku :)

Saat aku posting hasil fotonya, ternyata admin olshop itu merespon dengan sangat baik. MasyaAllah, dapat compliment segitu baiknya bikin aku terharu luar biasa, karena aku merasa diriku bermanfaat paling tidak untuk olshop tersebut.

Long story short, beberapa online shop mulai berdatangan menawariku untuk mengiklankan produk mereka. Honestly speaking, setiap aku mendapat tawaran itu, rasanya bahagia karena berarti mereka percaya aku bisa membantu penjualan produk mereka. Senang juga karena punya baju baru lagi, termasuk ibu dan adikku yang seukuran denganku juga ikut senang, karena biasanya kalo lemariku udah kepenuhan, sebagian besar aku alihkan ke mereka, hihi.. Aku masih berusaha memegang prinsip, punya barang seperlunya aja.

Sayangnya, karena keterbatasan waktuku untuk foto karena sehari-hari aku bekerja, aku nggak bisa ambil semua tawaran tersebut. Akhirnya aku hanya ambil beberapa yang memang sangat sesuai dengan keseharianku. Selain karena aku nggak mau asal review, aku juga pengen punya style khusus yang mudah diingat. Kalau kalian lihat, seleraku biasanya begitu-begitu aja, hanya beda di warna atau motif.

Kalau ada yang komentar, "Enak banget, mba, bisa dapat produk gratis apalagi nggak harus rebutan." MasyaAllah, memang iya, pasti senang dapat baju cantik apalagi kalau memang sudah diincar sejak teasernya muncul. Tapi, sejujurnya, untuk menyajikan foto yang menurutku terbaik, butuh effort yang luar biasa :)

Begitu baju datang, harus dicuci atau minimal disetrika dulu sampai rapi, jangan sampai kusut karena bisa mengurangi cantiknya foto. Setelah itu, kalo bajunya udah cantik, kan kebanting kalo yang make nggak "dandan", setidaknya supaya wajah terlihat lebih segar walaupun hanya sebatas pensil alis dan lipstik. Karena aku bukan Citra Kirana, jadi aku harus dandan, hehe.. Berikutnya, cari background yang rapi, kalau bisa nggak monoton. Dulu, saat belum ada pandemi seperti ini, aku sering keluar rumah cari spot foto yang menarik. Tapi semenjak pandemi, aku hanya foto di rumah memanfaatkan layer kain dan properti dedaunan yang lagi hits seperti biasa dipakai untuk katalog online shop. Terlihat niat memang, tetapi aku hanya berusaha semaksimal mungkin membuat fotonya menarik sesuai seleraku, sebagai balas jasa kepada online shop yang udah ngasih aku baju cantik. Selain itu, aku juga suka cari spot foto di seputaran komplek, seringnya di area pepohonan, tentunya yang aman dari pandangan tetangga, karena sampai saat ini pun aku masih suka malu kalo foto-foto dilihat orang, hehe. Waktu aku tinggal di tepi pantai, area pantai jadi spot foto favoritku. Terlepas dari apapun backgroudnya, yang penting detail baju bisa terlihat karena itulah yang harus kalian tunjukkan. Untuk 1 outfit, aku pernah rekor foto sampai ratusan, sampai dapat yang sesuai selera, hehe..

Nah, untuk waktu foto ini, aku biasanya hanya bisa foto saat weekend, itupun ketika anak-anak bisa dikondisikan. Pernah, aku udah dandan dan siap untuk foto, eh anakku tantrum, kalo udah gitu ya mesti ngalah, fotonya aja yang diundur.

Balik lagi soal endorsement, menjawab pertanyaan yang seriiing banget masuk, apakah aku dibayar atau nggak. Jawabannya, mostly nggak, apalagi kalau itu brand milik teman-temanku. Seiring dengan waktu, tujuanku aktif di instagram bertambah, sebisa mungkin ingin support #localbrand karena so far aku belum punya talenta lain, hehe.. Apakah itu produknya dikasih ke aku atau aku beli sendiri akan aku review, istilahnya #guebeliguereview. Kalaupun aku dibayar untuk review, beberapa kali karena memang dari pihak olshop menawarkan fee yang pada akhirnya aku jawab karena memang aku punya template dan bayarannya pun biasanya aku pakai untuk traktir siapa yang lagi motoin aku, apakah suami atau adikku, hehe.. Instagram memang sangat berjasa membuatku memiliki banyak teman seperti saat ini walaupun sebagian besar ada di dunia maya. Tapi, untuk saat ini, aku masih menganggap OOTD sebatas hobi, karena aku bahagia kalau dari reviewku, teman-teman bisa ikut nyobain produk yang aku rekomendasikan apalagi kalau memang ternyata disukai.

Jadi, kembali ke paragraf pertama, aku ga menganggap diriku selebgram. Makasih banget untuk teman-teman yang masih setia menjadi followerku dan mohon maaf kalau aku nggak follow back semuanya, karena kalau memang pagenya aku suka, otomatis akan aku follow, nggak perlu mengirim pesan seperti "Followback dong, kak". Jangan, yah, hehe..

Satu lagi, apa yang ditampilkan orang di instagramnya atau sosial medianya masing-masing adalah apa yang orang itu ijinkan kalian melihatnya. Di balik postingan bahagia yang ditampilkan, pasti ada problematikanya masing-masing yang ga mereka tunjukkan. Jadi, setiap melihat postingan orang lain yang indah-indah, jangan lupa untuk kembali menelaah nikmat apa yang udah kita dapatkan lalu mensyukurinya, ya, teman-teman. Kita nggak tau masalah apa yang
sedang mereka hadapi di baliknya.

Friday, May 17, 2019

Secukupnya saja

Semua barang kita akan dihisab nantinya.

Bagaimana cara memperolehnya.. Digunakan untuk apa saja.. dll


Karena sering banget baca barisan kalimat ini, berasa dicambuk, saya jadi rutin beberes isi rumah. Selain emang karena takut akan kisah soal hisab ini, saya emang demeeen banget menata ruangan dan ngeliat barang-barang di rumah berada pada tempatnya masing-masing. Nah, barang-barang apa saja yang sekiranya udah nggak begitu kepakai, saya pisahkan untuk sebagian diberikan ke orang-orang yang mau atau yang lebih membutuhkan dan sebagian lagi yang masih bernilai jual, terutama pakaian, saya coba jual lagi.


Sebenarnya dari kecil saya ga begitu suka ngumpulin barang, karena emang saya berasal dari keluarga yang secukupnya saja. Walau keinginan banyak, tapi apalah daya, dana terbatas jadi ya memang harus hidup dengan seperlunya saja. Saya ga punya koleksi mainan yang banyak apalagi boneka. Bahkan, jaman SD dulu, lupa saat kelas berapa, tapi kira-kira seumuran kelas 4 SD, saya pernah cuma punya 2 baju jalan, bukan karena orang tua saya nggak mau beliin, tapi karena walaupun dibeliin, tapi ujung-ujungnya baju yang saya pakai cuma di antara kaos putih turtle neck dan kaos hijau gambar tweety, itu aja terus ganti-gantian. Saya baru punya barang cukup banyak itu semenjak udah punya penghasilan sendiri.


Sejak setengah tahun lalu mungkin kegiatan “bebersih” rumah ini saya jalani. Tentunya banyak banget godaannya, terutama seperti “Duh, sayang sebenernya mau dikasihin ke orang, takut suatu saat butuh, deh”. Tapi, later on, setelah 6 bulan berlalu, ternyata barang itu ya tetap aja ada di situ, ga terpakai sama sekali. Nah, kalo udah begitu, emang udah saatnya we let them go. Barang itu akan bermanfaat kalau dipakai, bukan hanya disimpan. Efek dari “bebersih” ini somehow bikin saya jadi ngerem-ngerem saban mau belanja barang-barang lucu, karena keinget tumpukan barang di rumah yang belum selesai dibenahi. Dengan ga belanja aja, tiap minggu tetep adaaa aja barang yang akhirnya dipisahkan karena ga terpakai. Karena beda waktu beberes, beda pula keputusannnya akan suatu barang. Jadi, baiknya beberes ketika abis kajian, wkwkw.. Belanja mah tetep jalan, namapun wanita, tapi sekarang sepertinya udah lebih “waras”, karena ketika saya bilang soal resolusi ini, suami yang udah jauh lebih dulu hidup minimalis meng-Amin-kan dan siap jadi pengingat saban istrinya mulai kalap lagi, hehe..

Nah, dalam rangka menggalakkan hidup yang lebih minimalis, langkah-langkah yang saya ambil, yaitu:

-Tentukan pos-pos pengeluaran sehari-hari termasuk untuk jajan dan usahakan jangan melebihi anggaran tersebut.

-Kalau misal sekiranya hampir ga kuat pengen nambah belanja, terutama baju dan aksesoris, keluarin dulu beberapa item yang ada sebelumnya baru boleh nambah lagi, jadi lemari jangan sampai penuh sesak.

-Salah satu kebiasaan saya, ada catatan untuk semua “koleksi”, mulai dari pakaian, tas, sepatu, sampai make-up dan skincare. Semua saya catat cukup detail, termasuk kapan belinya dan kapan mulai dipake untuk skincare dan make-up. Dengan catatan ini, saya juga jadi bisa tau untuk 1 produk make-up atau skincare bisa saya habiskan persisnya berapa lama. Dan ketika tergiur akan sesuatu, misal tiba-tiba ada diskon untuk eyeliner, padahal saya baru aja beli, saya ga lantas beli banyak dengan alasan, duh mumpung diskon, kapan lagi coba. Kalo emang butuh, pasti nanti nemu lagi, kok atau ya bolehlah beli satu aja mengingat eyeliner katanya masa pemakaiannya hanya 3-6 bulan. Sama halnya misal lagi jalan ke mall, padahal niatnya cuma mau beli popok, tiba-tiba ada hal lain yang menggiurkan, jadi mampir sana-sini, nah hindari hal-hal seperti itu. Jadi, harus fokus dan tetap tenang melenggang melewati stand-stand itu, hehe..

-Menahan diri untuk nggak tergoda akan trend. Kalau udah punya style tersendiri, biasanya ga akan mudah digoyahkan oleh apa yang lagi nge-trend saat itu. Misal, kayanya lagi happening banget tas rotan tapi dipikir lagi, buat orang kantoran kaya aku, mau dipake ke mana juga. Hopefully it will end up dengan “ yaudah gausa aja, deh, ga butuh-butuh amat”.

-Jangan terlalu peduliin apa kata orang. Jangan gampang “keracun” dengan opini orang. You know what’s the best for you, yang penting diri sendiri nyaman. Kalau emang mau minta pendapat orang soal penampilan, semisal punya pasangan, maka pasangan kita lah yang paling berhak menilai.

-Untuk pakaian, saya punya satu brand favorit yang sejak 6 tahun sampai saat ini masih saya gemari. Dulu, setiap brand ini launching, saya hampir pasti akan selalu beli minimal 1 item per koleksi, yang mana ujung-ujungnya berakhir dengan kalap belanja bisa sampai 3-6 item per koleksi. Pada akhirnya, biasanya hanya 1-2 dari belanjaan itu yang saya keep karena emang saya suka banget, sementara sisanya kadang saya kasih adik, tapi seringnya, sih saya jual lagi karena sebenernya belinya karena latah liat dipakai sama temen-temen yang lain kok ya bagus. Malah ada juga yang dari pertama kali beli sampai 2 tahun kemudian belum terpakai juga. Lagipula memang brand ini punya daya jual yang masih OK walaupun statusnya udah preloved. Setelah saya pikir-pikir, saya harus bisa memutus siklus ini dan commit untuk hanya membeli yang benar-benar akan kepake aja. Caranya gimana? Kalau saya pribadi, ga begitu mantengin social media karena banyak racun yang berasal dari sana. Dulu waktu hamil, sempet 3 bulan bedrest dan totally ga buka sosmed, saya ga kalap kepengen ini-itu. Jadi, sekarang saya mulai membatasi diri bersosmed. Waktu bersosmed saya biasanya di saat perjalanan ke kantor (karena Raya yang saya bawa ke daycare seringnya tidur. Tapi kalau Raya bangun, saya simpan HPnya), di jam istirahat kantor kalau lagi nggak ada acara maksitik alias maksi cantik sama para sahabat, curi-curi di jam kantor (ups!) dan menjelang tidur malam ketika anak-anak udah tidur dan ini biasanya maksimal 2 jam karena saya ga kuat begadang.

-Sering-seringlah merasa cukup dengan banyak bersyukur. Ini yang susah, karena seringkali kita kurang bersyukur atas apa yang udah didapat, masih ingin lagi dan lagi, sementara Allah SWT sendiri menyukai hamba-hambaNya yang pandai bersyukur, hiks..

-Bergaullah dengan teman-teman yang misinya adalah untuk saling membaikkan satu sama lain. Kata ummu Sajjad, menjadi sholeh sendiri itu biasa karena memang sudah seharusnya begitu, tapi membuat orang-orang di sekitar kita ikut sholeh, itu yang luar biasa.

Ga cuma soal outfit, semisal kita liat ada barang yang nganggur di rumah, yuk kita pilih-pilih lagi, mana aja yang sekiranya jarang dipakai, kita sisihkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan.  Mengutip perkataan seorang ustadzah siang ini dan saya modif dikit, barangkali barang sisihan kita itu akan menjadi barang terbaik di lemari orang lain. Hal ini pernah terjadi pada saya. Saat lagi beberes gudang, saya nemuin kumpulan bola-bola yang dulu pernah dipakai Azka untuk mandi bola dalam kondisi berdebu tapi masih layak pakai. Karena lagi ribet, saya ga bersihin, jadi kondisinya masih kotor. Saya kontak tukang loak langganan komplek dan nawarin bola-bola itu dan ga diduga responnya bikin pengen nangis sesenggukan. Ternyata cucu beliau udah lama banget minta bola-bola seperti itu tapi si kakek belum pernah ngasih karena belum ada rejeki lebih. Dan tenyata katanya rejekinya dari Azka, masyaAllah, bayangin coba bola-bola kotor itu ternyata adalah jawaban dari harapan si cucu, huaaa pen mewek.


Last but not least, yang paling penting dari semuanya adalah istiqomah. Memulai itu jauh lebih mudah daripada mempertahankan tapi kalau nggak dicoba, kita nggak akan tau kita mampu atau nggak. Jadi, mari kita semangat berbenah diri dan barang-barang juga supaya ketika waktunya kita dihisab nanti nggak makan waktu lamaaa dan panjaaang :)

Friday, April 12, 2019

5 Hari Bersama @lokana.id


Assalamu’alaikum, teman-teman...

Makan siangnya pake apa hari ini?

Ngomong-ngomong soal makanan, sejak saya tergabung di salah satu grup perkumpulan ibu-ibu yahud di WhatsApp, jadi keinget lagi bahwa kita harus selalu concern soal makanan. Mereka banyak sharing mengenai bahan-bahan makanan sehat, cara mengolahnya gimana, bahkan alat masak yang sehat juga dibahas.

Nah, soal makanan sehat ini emang penting banget, sih, karena di jaman sekarang ini, salah satu penyumbang penyakit terbesar yaitu dari pola makan. “Ah, jaman dulu kakek-nenek saya makannya juga asal-asalan, sehat-sehat aja, kok sampai sekarang”. Alhamdulillah kalo memang begitu, tapi jaman dulu kan beda ama jaman sekarang. Tiap tahun, polusi bertambah diperparah lagi oleh gempuran radikal bebas. Jaman dulu mana ada yang namanya Air Conditioner, karena emang cuaca sejuk, pepohonan rimbun, lah sekarang, AC diciptakan bukan cuma untuk menghalau udara yang sumuk tapi juga dengan berentet teknologinya semacam air purifier, pembunuh kuman, dll dsb yang emang dikarenakan lingkungan kita sudah jauh berbeda dengan jaman dulu.

Pun soal bahan makanan, dulu bahan makanan lebih orisinil dibanding masa kini. Nah, sekarang, serba ditakut-takuti dengan berita beras yang dikasih pemutih lah, gorengan yang dicampur plastik, dll, dsb, sempet bikin horor mau jajan di luar. Mau ga mau emang kita harus put extra effort untuk memastikan bahwa makanan kita sehat untuk dimakan.

Lanjut ke soal makanan sehat dan grup WA ibu-ibu favoritku itu, aku dapat banyak pencerahan soal yang receh-receh bagiku, misalnya di mana beli bahan makan organik, merk apa aja yang recommended, dll dsb. Tapi, dengan alasan sibuk lah, waktuku banyak habis di jalan, lah, rencana makan sehat ini hanya sebatas rencana, progress eksekusinya lambat banget. Saat ini baru sebatas no MSG di rumah terutama untuk anak-anak, ngurangin cemilan yang berpengawet (tetep dikasih tapi ga dibiasain), konsumsi beras organik, ganti minyak jadi minyak kelapa (saya pake merk B*rco), beralih ke himalayan salt, ngurangin goreng-gorengan, tapi kalo tumis sih masih, kalo bisa ya rebus-rebusan atau kukus-kukusan aja. Tapiii itu baru sebatas mengganti bahan makanan aja, nah masaknya ini yang maleees banget.

Sampai di suatu hari saya berjodoh dengan catering makanan sehat dari instagram @lokana.id. First impression saya waktu liat feed IG-nya, tampilannya sih OK tapi masih skeptis sama rasanya. Di minggu saya berlangganan catering ini menunya Kerajaan Nusantara. Saya ga nanya detail menu per harinya apa aja jadi biar surprise terus setiap hari, walaupun deep inside saya deg-degan juga karena dalam sehari, makanan yang paling penting bagi saya itu saat makan siang. Kalo sarapan dan makan malam, apa aja lah asalkan makan siangnya mancap. Tapi kalo ga dicoba ga bakal tau, kan. Long story short, menu makanan pertama datang dan ternyata rasanya sangat bisa ditolerir, cuma porsinya aja yang bagi saya kurang. Tapi kan prinsip makanan sehat, makan bukan untuk kenyang tapi secukupnya saja.

Dari hari pertama sampai di hari kelima, semua menu hampir habis saya lahap. Ada yang ga habis, tapi itu karena sebelumnya udah keburu makan duluan, cheating dikit tak apa lah, namanya juga newbie, hehe. Trus, kesan dan pesan selama 5 hari ini gimana? Berhubung namanya makanan sehat pasti ada yang bakal nanya soal pengaruhnya ke berat badan gimana. Berat badan saya turun dikit aja ga nyampe 1 kg karena emang tujuan utamanya bukan untuk diet. Tapi kalo yang mau diseriusin, makan ini bisa jadi menu diet, asal istiqomah dengan programnya. Perasaan saya ketika makan jadi lebih enteng karena tau saya memasukkan bahan-bahan yang OK ke dalam tubuh. Biasanya kan kalo makan enak tuh suka merasa bersalah udahannya, nah ini nggak, padahal rasanya tetep enak juga.

@lokana.id


Day 1: Nasi merah, Sayur kol, Ikan balado, Perkedel jagung


Day 2: Pempek, Mie kuning udah ada rasa bumbunya agak plain


Day 3: Nasi merah, Tumis tauge, Fillet ayam bakar kecap, Tempe orek kecap

Day 4: Nasi merah, Tumis labu siam, Fillet ayam balado, Bakwan

Day 5: Nasi kuning, Gado-gado sayur, Fillet ayam goreng serundeng, Tempe orek kecap

Buat temen-temen yang berminat untuk nyobain katering makanan sehat ini, saya ngerekomendasiin banget si @lokana.id karena menunya nggak nakutin, malah enak walopun ya ga seenak ramen atau salmon mentai sushi tapi seriously enak. Semua menunya merupakan cita rasa masakan nusantara. Udah gitu harganya bersahabat, cuma 45.ooo per-porsi udah termasuk delivery. Sejauh ini, saya belum pernah menemukan katering yang di bawah 50.000 itupun saya lupa udah sama delivery cost atau belum.

Friday, April 5, 2019

My Skincare Journey

Assalamu'alaykum teman-teman...

Kali ini mau bikin satu post khusus untuk menjawab salah satu FAQ yang saya terima di instagram: "mba perawatan wajahnya pakai apa?". Katanya “terlihat” mulus di foto. Sebenarnya, yah, faktor utamanya adalah karena lighting-nya pas, pixel kamera OK, dan ada sentuhan filter juga jadi kalo bertatap muka langsung, akan kelihatan pori-pori yang masih gede dan warna kulit yang ga rata. Tapi untuk tekstur kulit, memang rasanya ada perbaikan setelah ketemu rangkaian skincare yang cocok.

Sebelumnya, saya pengen cerita soal pengalaman saya dulu pernah berjerawat parah banget sampai akhirnya bisa “sembuh” walau ga bisa balik seperti semula.

Saya baru melek skincare sekitar tahun 2015. Sebelumnya? NOL BESAR. Bahkan sunscreen yang katanya penting aja, saya gatau itu apaan. Satu-satunya skincare saya saat itu hanya facial wash, itupun apa aja yang seketemunya di supermarket. Jadi, habis cuci muka, langsung bedakan (dulu saya pakai Marcks), pake pensil alis dan lipgloss. Begitu udah kerja, padahal udah punya income tapi tetep, saya belum melek skincare, karena emang jarang nge-mall juga dan pada saat itu saya belum main instagram, jadi jarang terpapar dengan informasi soal skincare. Skincare routine? Masih dengan facial wash saja. Titik.

Sampai pada akhirnya gara-gara ngeliat wajah seorang temen muluuus banget, saya tanya dia pake produk apa, ternyata dia pakai paketan facial wash warna orange, krim malam warna putih pearl, dan krim siang warna kuning. Akhirnya saya cobalah ketiga produk itu tanpa tau kandungannya apa aja, aman atau nggak, pokoknya hajar bleh, yang penting wajah saya kinclong. Dan benar saja, dalam waktu 1 bulan wajah saya berubah instantly cerah kinclong licin sampai banyak banget orang lain yang ikut "keracun". Later on, karena saya udah mulai melek skincare, kok rasanya agak aneh, ya, perubahan wajah saya instan banget, jadilah saya mulai cari tau sembari mulai mengurangi pemakaian karena dicurigai sebagai krim racikan tanpa resep dokter, yang konon punya efek buruk untuk jangka panjangnya. Saya memakai produk itu rasanya ga sampai setengah tahun, dan akhirnya berhenti karena saya mau nikah, pas tes make-up, MUA-nya bilang, bedak saya susah nempel karena wajah saya terlalu licin, jadi disarankan berhenti skincare-an dulu kalau mau hasil make-up nya bagus saat hari H. 1 bulan sebelum hari H, saya stop pemakaian, tapi Alhamdulillah wajah saya ga break-out parah, hanya muncul beberapa spot jerawat. Setelah itu, saya kembali nggak skincare-an lagi, sampai pada akhirnya efek dari berhenti make skincare tadi muncul, wajah saya jadi kusam plus bekas jerawat ga ilang-ilang. Bekasnya berupa spot kemerahan terutama di pipi kanan dan kiri yang paling nyata terlihat dan sampai sekarang ada beberapa spot yang belum bisa hilang. Info yang saya kumpulkan, bekas ini harus mendapat treatment seperti laser atau sejenisnya, ga bisa hilang hanya dengan krim-kriman.

Beberapa minggu setelah nikah (awal 2013) sebenernya saya udah pernah nyobain starter kit-nya SK-II yang isinya FTE, Stempower dan Mask. Gegara lagi berkunjung ke Senayan City, lagi ada booth skin check dan cek lah saya di sana. Waktu itu saya udah ngerasa cocok dengan FTE dan Stempower ini, tapi 2 bulan kemudian saya hamil dan karena hamilnya ringkih bin pemalas, saya ga ngelanjutin skincare dan bener-bener apa adanya aja setiap hari. Bangun tidur cuma basuh muka pakai air, ga pake sabun sama sekali, tinggal tambah pensil alis aja dan selesai. No sunblock, no moisturizer at all. Kondisi ini berlangsung selama kehamilan sampai setelah Azka berusia kurang lebih 1 tahun.

Thanks to www.femaledaily.com (FD) dimana saya bisa dapet pencerahan soal skincare sampai pada akhirnya saya tau bahwa kulit saya adalah tipe berminyak. Ditambah lagi saya gabung di satu grup desainer busana muslim yang mana isinya wanita-wanita cantik, kalo lagi ketemuan alias meet-up, banyak yang kulitnya bagus banget, terawat dan kalo pake make-up pun make-up nya nempel bagus di kulit. Mereka juga gemar berbagi ilmu dan “racun” soal skincare dan make-up, jadilah “keracun” ingin nyobain ini-itu.

Setelah lahiran dan hasil keracun sana-sini, saya nyobain rangkaian skincare dari brand Guerlain. Counternya salah satunya ada di Pacific Place dan saya sering main ke sana di jam istirahat kantor, ngepoin satu-satu produknya apa-apa aja. Saya sempet pake lumayan lengkap dan hasilnya pun sesuai dengan ketelatenan. Cuma satu kekurangannya, harganya mahal banget untuk produk full-size. Bahkan untuk sample size alias travel sizenya pun mahal. Jadi, begitu sample habis, bingung mau nerusinnya gimana hehe.. Waktu pake Guerlain ini wajah saya lumayan jauh membaik dibanding sebelumnya. Bisa dibilang, my skin was at its best saat itu.

Tapi yah, namapun manusia, nggak ada puasnya, saya memutuskan untuk nyoba treatment di dokter kulit yang banyak direkomendasiin ama temen-temen. Sebelum ke sana, saya udah searching info sebelumnya mengenai perawatan dokter kulit. Satu hal yang saya lupa untuk camkan, yaitu bahwa jenis kulit orang berbeda-beda, kita ga bisa mengharapkan hasil yang sama persis untuk semua jenis kulit. Dan juga, kita ga bisa hanya bergantung dengan treatment-treatment dan krim-krim dari dokter aja. Ketelatenan kita selama perawatan sangat berpengaruh terhadap hasilnya. Jadi, ga boleh tuh ada cerita kita males-malesan skincare-an.


Kedatangan pertama kali ke dokter kulit ini, saya amat sangat puas dengan hasilnya. Sampai di kunjungan berikutnya, saya disarankan untuk chemical peeling dan dari saat ini-lah kegalauan saya dimulai. Seumur-umur saya baru pernah sekali facial di tahun 2011 silam di klinik kecantikan di Bandung. Begitu tau rasanya sesakit itu, saya udah ga mau coba lagi. Nah, untuk peeling ini saya ga ada bayangan sama sekali rasanya bakal gimana karena belum pernah nyoba sebelumnya. Later on, ternyata bagi saya rasanya sangat menyakitkan, muka perih nyut-nyutan sampe ga kerasa air mata netes. Dan entah apa yang salah dalam prosesnya, pada akhirnya wajah saya jadi jerawatan parah, udah kaya butiran pasir bernanah nempel di muka. Dari info yang saya baca-baca di Google, kemungkinan saya alergi dengan salah satu unsur di dalam obat peelingnya yang sampai saat ini pun saya gatau itu apa. Dan ternyata lumayan banyak juga yang punya kasus seperti ini walau jauh lebih banyak yang berhasil jadi kinclong sebenernya. Proses penyembuhannya bisa memakan waktu bulanan hingga tahunan.


Pada awalnya saya pasrah dengan semua saran dokternya, saya masih rajin dateng seminggu sekali untuk menyembuhkan jerawat. Di tiap kedatangan, jerawat saya disuntik bisa sampai di puluhan spot, jadi pulang-pulang itu wajah saya bengep. Begitu aja terus sampai pada akhirnya udah lewat sebulan tapi saya ga ngerasain perbaikan apa-apa, jerawat malah makin parah. Dokter dan perawatnya pun heran, karena saya termasuk pasien yang hasilnya "anti-mainstream". Jadi, dari semua temen-temen yang perawatan ke sana, cuma kulit saya aja yang bermasalah.

Atas saran dari teman yang lain, saya coba cari second opinion, nyobain treatment di dokter kulit lainnya di Bekasi. Long story short, selama hampir 3 bulan perawatan di dokter R, perlahan-lahan wajah saya membaik. Jerawat yang tadinya bernanah dan bikin wajah saya gradakan bruntusan, pelan-pelan menghilang. Bekas jerawat yang kehitaman memudar tetapi yang kemerahan masih tetap ada, tapi nggak apa-apa lah, dengan perbaikan yang cukup signifikan saya bersyukur banget.

Setelah 3 bulan perawatan, saya berhenti perawatan ke dokter kulit dan mencari produk-produk drugstore. Selama proses peralihan dari dokter kulit ke skincare umum ini ada problem yang muncul tapi ga separah sebelumnya. Saya memutuskan untuk berhenti karena takut ketergantungan. Selain itu juga karena saya ingin segera program anak kedua.

Udah nggak kehitung, deh, berapa jenis skincare yang udah saya cobain setelahnya, dari yang murah sampai yang relatif mahal. Asal liat ada review bagus di FD, saya tertarik untuk nyobain. Beruntungnya, jaman now banyak online shop yang jual versi share in jar jadi kalo misal ga cocok, ga sedih-sedih amat. Dulu pernah  tergiur review rangkaian paket Sunday Riley, udah beli komplit paketannya, nggak taunya ga cocok, kan nangis, ya. Oya, selain di FD, saya juga biasanya liat review produk yang saya incer itu di makeupalley.com, sephora.com karena ada kumpulan rating dari para user atau bisa juga dengan liat video youtube, as simple as dengan mengetikkan nama produk yang dipengenin, keluar deh tuh review dari orang-orang.

Selama proses perawatan kulit itu yang saya sadari, hal-hal yang paling membantu mempercepat penyembuhan jerawat-jerawat saya, yaitu proses-proses seperti:

-Mengurangi makanan berminyak


Kalopun mau makan yang berminyak, masak sendiri di rumah, jadi yakin kalo minyaknya bersih.

-Rajin mengganti sarung bantal minimal seminggu 2 kali karena kalo kita tidur kan kadang suka tengkurep, kalo misal sarung bantalnya kotor jadi bisa ngotorin wajah juga. Kalau saya, karena sarung bantal ga banyak di rumah, jadi biasanya bantal saya alasi pake bedong, jadi bedongnya itu yang diganti-ganti setiap 2 hari sekali.

-Bagi yang berjilbab, usahakan selalu nyuci jilbab sebelum dipake, kita ga tau ada kuman apa yang nempel di kain ya, kan?

-Ganti shampo, karena kalo ga cocok juga bisa memicu jerawat. Sekarang saya cocoknya dengan shampoo yang SLS-free, saya pakai merk Organic Care (lupa warian apa), belinya di Grand Lucky - SCBD. Ini beneran ngaruh, loh, karena sebelum ganti shampo, di dahi dan pelipis saya sering muncul jerawat tapi sekarang udah berkurang banget.

-Kalau sering jerawatan di dagu, coba deh rutin cuci mulut tiap abis makan, karena remah-remah makanan yang nempel di muka, terutama dagu juga bisa jadi pemicu jerawat kalo dibiarin lama nempel di dagu.

-Less make-up karena bisa menyumbat pori-pori kalo kelamaan nggak dibersihkan.

-Rajin bersihin muka terutama malam sebelum tidur harus udah pastiin bahwa wajah udah bebas dari any kind of make-up.

Sudah 3 tahun berlalu sejak terakhir kali saya perawatan ke dokter kulit. Sekarang udah nggak lagi, cuma mengandalkan produk-produk yang dijual bebas, mudah didapatkan di e-commerce mana saja ataupun di counter seperti Guardian, Watson, atau Century. Untuk saat ini, skincare regime saya sesuai urutan:

AM


Facial Wash: Papulex Moussant Soap Free Cleansing Gel

Waktu perawatan di dokter kulit di Bekasi, saya dikasih sabun muka warna kehijauan dan cocok banget di wajah saya. Tapi karena mahal, saya ga repurchase. Setelah berkelana sekian lama, saya tertarik buat nyobain si Papulex ini dan surprisingly ternyata rasanya mirip dengan sabun muka dokter itu, mungkin kandungannya sejenis. Efek akhirnya ga bikin muka kerasa ketarik. Untuk tube 150 ml, harganya kisaran 190-200an dan makenya pun dikit banget udah bisa buat semuka. Sayangnya, tutupnya susah dirapatin, jadi kalo dibawa bepergian, rentan bleber. Bisa dibeli di Shopee.


Toner: Mamonde Rose Water
Saya beli ini karena mau nyoba-nyoba aja pada awalnya. Setelah dipakai, saya ga paham apa efeknya ke wajah, tapi karena nggak ada efek buruk, jadi saya terusin aja. So far saya udah menghabiskan 2 botol ukuran 250 ml dan sekarang lagi pake yang ukuran 500 ml karena lebih hemat beli yang ukuran gede. Saya belinya di Shopee.


Moisturizer: Clinique Dramatically Different Gel
Sejauh ini Clinique DDMG adalah moisturizer yang paling cocok di kulitku. Dia ada beberapa tipe, yang Gel untuk kulit berminyak, Lotion yang untuk kulit kering, serta Gel (lupa untuk kulit apa). Pertama saya beli travel size di Lazada isi 30 ml sekitar 130an ribu dan jadi salah satu item yang saya pake sampai habis. Sempet berganti-ganti ke moisturizer lainnya sampai pada akhirnya saya balik lagi dan langsung beli full size nya di counter Clinique Kota Kasablanka kurang lebih sekitar 500an. Waktu saya beli itu lagi ada promo yang untuk type Lotion. Kalo beli Moisturizernya bisa dapet facial wash dan toner sekaligus. Sayangnya promonya ga berlaku untuk yang Gel. 

Sunblock: ISIS Neotone Radiance

Sampai saat ini, sunblock ini masih yang terbaik. Isi 30 ml ini saya pake setahun lebih belum habis. Teksturnya seperti pasta warna putih. Pertama kali diaplikasikan ke wajah, warnanya emang putih, tapi kalo udah diblend, bisa menyatu dengan bagus di wajah. Sunblock ini saya belinya di salah satu klinik dokter kulit di Depok, tapi saya cek di Shopee juga banyak yang jual dengan kisaran harga 350-400 ribuan.

PM

Make-Up Remover: Loreal Gentle Lip and Eye Make-Up Remover
Dari dulu gonta-ganti produk tapi pada akhirnya selalu balik ke merk ini lagi dan gampang juga ditemukan di supermarket mana aja.

First cleanser: Safi White Expert - Purifying Make Up Remover
Untuk cleanser ini saya pake Bioderma atau Garnier juga sebenernya cocok, tapi karena produk ini lagi happening dan begitu dicobain ternyata rasanya cocok, jadi saya terusin pemakaiannya. Cocok di sini maksudnya, nggak ada efek buruk ke kulitku, belinya kalo ga salah di Watson.

(Tambahan) Heimish All Clean Balm kalo abis pake bedak, apalagi foundation
Saya beli produk ini versi share in jar di Shopee. Beli karena penasaran dengan hype-nya dan ternyata emang sebagus itu. Tinggal dicolek aja pake spatula trus diolesin ke wajah abis itu dibilas, luntur deh kosmetik-kosmetik yang ada di wajah. Sayangnya harganya mahal jadi mungkin kalo mau beli lagi, saya bakal beli versi share in jar lagi karena bakal jarang juga dipake.

Facial Wash: Papulex Moussant Soap Free Cleansing Gel


Exfoliating Toner: COSRX One Step Original Clear Pad
Bentuknya pad basah dengan 2 sisi, kasar (embossed) dan halus. Pertama, pakai yang kasar dulu, ga perlu terlalu kenceng, abis itu ganti pake bagian yang soft. Ini holy-grail banget buatku, mungkin udah jar ketiga atau keempat sejak pertama kali nyobain. Isinya ada 70 pads. Kalau mau hemat, 1 padnya bisa digunting (pakai gunting yang bersih, ya) jadi 2. Saya pakai bisa sehari sekali atau 2-3 hari sekali tergantung sempat atau nggak, karena kalau malam kadang udah ngantuk banget, abis double cleansing, langsung tidur. Dia mengandung BHA jadi bagi ibu menyusui, sebaiknya dihindari dulu. Katanya begitu, nggak tau detailnya kenapa, jadi manut aja, ya.

Toner: Mamonde Rose Water

Moisturizer: Cerave Facial Moisturizing Lotion PM
Saya lupa dapat info dari mana soal moisturizer ini tapi begitu saya coba ternyata cocok di saya. Saya pakai beberapa saat sebelum tidur, jadi pas udah tidur, dia udah menyerap di wajah. Menurut saya sih menyerapnya agak lama dari produk lainnya yang saya pakai. Efeknya ke kulit bikin jadi lebih lembab. Saya suka kemasannya yang model pump trus bisa dikunci jadi kalo dibawa travelling ga gampang tumpah. Belinya di Shopee.

2-3x seminggu Masker: The Body Shop Himalayan Charcoal dan Chinese Ginseng & Rice selang-seling.


Saya beli masker ini karena keracun salah satu influencer. Waktu udah di counter, nanya-nanya ke SPG-nya, kata mereka kedua masker ini emang best-seller item-nya TBS. Harganya cukup pricey tapi begitu dicoba, rasanya worth every pennies. Varian Himalayan Charcoal fungsinya untuk detoks wajah apalagi kalo sering pake make-up. Nah, kalo yang Ginseng and Rice klaimnya untuk mencerahkan wajah. Isinya banyak banget, sekali pemakaian cuma butuh maksimal 2 ruas jari. Saya biasanya pake 3 hari sekali berhubung isinya banyak, biar cepet habis. Saya pake sebagai mask sekitar 15-20 menit abis itu dibilas pake air anget. Udahannya enaaak banget, kulit berasa halus dan instantly brighter. Tiap kali saya ada acara yang butuh make-up-an, saya pake ini dulu.

Perlu dicatat bahwa skincare itu cocok-cocokan. List skincare yang saya tulis di atas ini adalah hasil trial and error selama kurang lebih 6 bulan, setelah jumpalitan nyobain puluhan produk sampai akhirnya nemu yang ada hasilnya kalo dipakein di kulit saya. Masi banyak skincare lainnya yang udah dicoba dan ternyata ga cocok. Ga cocok ini maksudnya adalah udah dipake dalam 3 hari kerasa gatal atau panas di wajah atau misal udah 2 minggu tapi hasilnya malah memburuk, misal timbul jerawat atau kulit jadi kering bersisik kalo di saya. Kuncinya, harus rajin nyoba dan siap dengan segala resikonya, karena lagi-lagi, kalau kita liat produk itu cocok di orang, belum tentu cocok juga di kita, so please lower your expectation.


Bahkan dengan 1 jenis kulit yang sama aja, produk yang sama bisa memberikan hasil yang berbeda, jadi emang kuncinya adalah kenali dulu kulit kita seperti apa. Selalu cek komposisi skincare yang mau kita pake serta apa manfaat dari komposisi pembentuk skincare tersebut. Untuk ngecek komposisi dan kadar keamanan skincare, saya biasanya ngecek ke www.cosdna.com. Kalau ada yang lingkaran merah, artinya kandungan itu kurang baik untuk tubuh, jadi sebaiknya dihindari saja.

Last but not least, saya setuju banget dengan pepatah “you are what you eat”. Apa yang kita makan itu sangat berpengaruh terhadap kondisi kulit. Dengan menjaga asupan makanan, secara langsung kita ikut ngejaga kesehatan kulit kita. Sejak saya rutin minum air putih 2-3 liter sehari trus makan buah tiap hari, kulit jadi berasa lebih lembab.

Semoga postingan ini bermanfaat, ya teman-teman.

Thursday, February 14, 2019

Flea Market andalanque


Siapa yang suka hunting ke pasar barang bekas?

Saya sendiri tau tempat semacam ini sejak jaman kuliah dulu, di tingkat-tingkat awal. Awalnya diajak tetangga kamar di kosan buat hunting pakaian maupun aksesoris. Maklum lah anak kuliahan dikasi duit jajannya terbatas supaya bisa memaknai kehidupan. Nah, begitu tau ada pasar yang jual barang second dengan harga miring seperti Gedebage kalo di Bandung, rasanya seneeeng banget. Dulu bisa sebulan sekali ke sana. Tempatnya lumayan jauh dari daerah kosanku, sekitar 2 kali ganti angkot tapi selalu semangat tiap mau ke sana. Awalnya cuma beli untuk sendiri, lalu lama-lama jadi dibisnisin. Beli baju seharga 10 ribu untuk 3 lembar trus dicuci pakai air panas di kosan, lalu di-laundry-in lagi supaya wangi, abis itu difoto dan dipajang di kask*s pada saat itu. Hasilnya lumayan banget buat nambah duit jajan. Dari 1 baju bisa untung 10-20 ribu. Mewah lah kalo jaman dulu, mah. 20 ribu bisa buat makan sehari full.

Kebiasaan ini terus berlanjut sampai sekitar 2 tahun lalu, sebelum hamil anak kedua. Di Jakarta ada yang namanya Pasar Senen. Dulu, dalam setahun minimal 2x main ke sana kecuali pas hamil udah ga pernah lagi karena tempatnya ga bumil friendly. Beberapa kali ke sana, ada aja barang lucu yang bisa dibawa pulang. Penemuan oke beberapa tahun lalu, yaitu celana brand Uniqlo warna abu muda cenderung putih yang dulu sering aku pake buat OOTD di instagram, harganya cuma 25 ribu. Trus pernah juga nemu tas chanel ala-ala tapi tanpa emblem merk. Malu juga, sih kalo ada brand lalu ternyata KW, hehe. Clutch Braun Buffel juga pernah saya dapetin di sana. Banyak, deh outfit-outfit bagus yang pernah saya temuin yang ketika udah dipake suka ada aja yang nanya belinya di mana, hehe.. Adik saya juga ikut ketagihan setelah dulu pernah dapet jaket GAP hanya seharga 10 ribu dan celana Michael Kors dengan harga puluhan ribu juga. Kalo emang telaten, pasti nemu aja barang-barang bagus dengan kondisi masih oke yang harganya super miring.

Nah, di sini saya mau berbagi tips kalo kalian mau hunting di pasar Senen:
  • Datang ke sana pakai kendaraan umum aja, misal busway karena lokasi Pasar Senen ini persis di depan halte busway Senne. Jangan bawa mobil pribadi karena cari parkirnya susah.
  • Pakai pakaian yang nyaman, supaya ga gerah dan supaya nantinya gampang semisal mau nyobain pakaian yang ada di sana. Nggak ada ruang ganti, jadi kalo mau nyobain harus dobelin baju aja.
  • Tentukan tujuan awal mau ke sana, mau hunting apa. Misal, emang udah incer tas, sambangi toko-toko tas dulu, kalo udah nemu yang dicari, baru deh liat-liat yang lainnya.
  • Jangan bawa banyak barang berharga. Usahakan barang bawaan seminim mungkin. Kalau perlu nggak usah bawa dompet. Bawa pouch kecil aja isi uang secukupnya, kartu e-money kalo ke sananya naik busway, KTP atau kartu penting lainnya yang nggak bisa ditinggal kalo bepergian.
  • Simpan pouch uang tersebut di tempat yang aman di dalam tas atau saku, karena bagaimanapun juga lebih baik mencegah daripada menyesal kemudian. Beberapa kali saya ke sana, hampir selalu ketemu cerita orang-orang yang kecopetan. Amati terus bawaan masing-masing, jangan sampai lengah, apalagi ketika lagi milih-milih barang karena kalau terjadi sesuatu, nggak ada CCTV buat menelusuri kejadian tersebut.
  • Sediakan uang pecahan 5.000 – 20.000 untuk urusan bebayaran, karena harganya pun rata-rata berkisar di nominal itu. Beberapa toko yang saya datangi sering tidak menyediakan duit kembalian, jadi biar efisien lebih baik kita yang well-prepared.
  • Usahakan udah makan dulu supaya ga lemes pas muterin venuenya. Banyak, sih warung makan yang ada di sana tapi aku pribadi lebih suka datang ke sana dalam kondisi udah kenyang aja. Biasanya urusan bebelanjaan jadi lebih rasional kalo perut udah kenyang, hehe..
  • Datang ke sana sekitar jam 10-11, kondisi masih relatif sepi, toko juga baru buka jadi masih banyak barang bagus. Hanya saja kalau datang pagi, biasanya penjual masih suka memberikan harga tinggi karena kan mereka belum dapet pemasukan banyak. Beda kalo datengnya sore, biasanya dikasi harga lebih murah supaya laku aja, tapi barang-barangnya yang bagus udah banyak yang abis.
  • Nggak perlu nawar heboh karena bagaimanapun juga harga yang ditawarkan sebagian besar udah jauh lebih murah daripada harga pasar dengan kondisi yang rata-rata masih bagus. Sekarang udah jarang bisa nawar dengan harga terjun bebas karena sebagian besar penjual udah ngerti kalo barang branded emang mahal harganya.

Sekian tips dariku, semoga bermanfaat, yah..